Jelang Final Piala Dunia, Tanpa Disadari Umur Kita Semakin Tua

Siapa yang tak mengenal Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Neymar Jr., Luka Modrić, Manuel Neuer, dan deretan pesepak bola yang namanya hampir selalu menghiasi panggung Piala Dunia?
Rasanya, baru kemarin kita bangun pagi langsung menghadap tv dan menonton highlight pertandingan sepakbola yang selalu disiarkan. Mungkin juga baru kemarin kita berdebat dengan teman sekolah kita “siapa pemain sepak bola terbaik dunia?” Atau “Siapa klub sepak bola paling jago?”. Semua itu rasanya masih begitu dekat ya dengan kita sekarang?
Dan bahkan bagi banyak orang, sepak bola juga menjadi kenangan bersama keluarga. Menemani ayah menonton pertandingan piala dunia atau pertandingan liga, juga mendengar cerita-cerita kakek tentang pemain-pemain legenda di zamannya, hingga merasakan euforia gol bersama-sama di depan layar TV tabung yang ada di ruang keluarga. Di sinilah menariknya sepak bola yang bukan hanya sekadar pertandingan dan kompetisi saja, tapi juga menjadi momen bercerita antar generasi.
Jelang babak final Piala Dunia 2026. Ajang sepakbola dunia ini bukan sekadar turnamen unik yang digelar di tiga negara, piala dunia juga menyisakan kesan mendalam di mana ini menjadi panggung akhir sekaligus perpisahan bagi banyak legenda sepak bola yang telah menemani masa lalu kita.
Dan Kini, Satu Persatu Legenda Itu Mulai Menutup Lembaran Karirnya
Messi yang telah menuntaskan hampir seluruh mimpinya. Ronaldo dengan selebrasi “Siuuu” yang ikonik. Neymar Jr. dengan gaya jogo bonito-nya yang memikat. Mereka yang dahulu adalah anak-anak penuh mimpi kini telah menjadi pesepakbola senior yang perlahan mengakhiri perjalanannya bersama tim nasionalnya.
Hal ini bukan sekadar menandai berakhirnya sebuah era sepak bola. Lebih dari itu, momen itu diam-diam mengingatkan bahwa waktu juga sedang berjalan untuk kita.
Tanpa terasa, sebagian dari kita kini telah bekerja, berkeluarga, bahkan memiliki anak yang mulai mengidolakan pemain-pemain generasi baru. Dunia terus bergerak. Prestasi berganti, popularitas berpindah, dan generasi pun silih berganti.
Di situlah kita belajar bahwa setiap bertambahnya usia seharusnya diiringi dengan pertumbuhan diri. Jika dahulu kita begitu bersemangat mengikuti perjalanan karier para pesepak bola dunia, maka hari ini sudah semestinya kita lebih bersemangat memperbaiki perjalanan hidup kita sendiri.
Bekerja lebih sungguh-sungguh, menjadi pribadi yang lebih bermanfaat, dan yang terpenting, memperbaiki hubungan dengan Allah Swt.
Dalam surah yang sering kita dengar, Allah Swt telah mengingatkan manusia melalui Surah Al Ashr ayat 1-3:
وَالۡعَصۡرِۙ ١ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ ٢ اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٣
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Surah yang sangat singkat ini justru memuat pelajaran yang begitu mendalam. Allah bersumpah “Demi Masa” sebagai tanda bahwa waktu adalah modal kehidupan yang paling berharga. Pada hakikatnya manusia berada dalam kerugian karena umur terus berkurang, kecuali mereka yang mengisinya dengan empat bekal: iman, amal saleh, saling menegakkan kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran.
Maka pertanyaannya bukan lagi, berapa usia kita hari ini, melainkan apa yang telah berubah dalam diri kita seiring bertambahnya usia itu?
Sudahkah salat kita lebih terjaga? Sudahkah doa kita semakin khusyuk? Sudahkah amal kita semakin banyak? Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi sesama?
Euforia Piala Dunia memang begitu seru hingga sangat dinanti oleh masyarakat dunia. Namun jangan sampai kita terjebak dalam euforia tersebut. Sepak bola akan selalu menghadirkan generasi baru. Akan lahir Messi-Messi berikutnya, Ronaldo-Ronaldo berikutnya, dan bintang-bintang baru yang kelak memenuhi panggung sepak bola dunia. Namun kehidupan kita pun sedang bergerak menuju garis akhirnya masing-masing.
Karena itu, nikmatilah setiap zaman dengan penuh syukur. Simpan kenangan masa muda sebagai cerita yang indah, tetapi jangan biarkan hati terlalu terpaut pada gemerlap dunia. Sebab ketika peluit panjang kehidupan akhirnya ditiup, yang akan menentukan kemenangan bukanlah seberapa banyak pertandingan yang kita saksikan, melainkan seberapa baik kita memanfaatkan waktu yang Allah titipkan.
“Dan barangkali, itulah kemenangan yang sesungguhnya.”
Penulis: Bhisma Rahaditya Handoko
Sumber: Suaramuhammadiyah.or.id

