News

Menghidupkan Ijtihad dan Tajdid: Muhammadiyah Dorong Akomodasi Kalender Hijriyah Global

Semarang — Upaya menghidupkan kembali semangat ijtihad dan tajdid dalam kehidupan umat Islam kembali ditegaskan dalam kajian yang disampaikan oleh Hamim Ilyas, yang akrab disapa Dr. H. Hamim Ilyas, M.A. Dalam pemaparannya, beliau mengangkat tema penting tentang akomodasi Kalender Hijriyah Global sebagai bagian dari pembaruan pemikiran Islam yang relevan dengan perkembangan zaman.

Kajian ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan pengajian Ramadhan yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah, yang terus berkomitmen mengembangkan pemikiran Islam berkemajuan. Dalam kesempatan tersebut, Hamim Ilyas menjelaskan bahwa semangat ijtihad merupakan usaha sungguh-sungguh para ulama untuk menggali hukum dan panduan kehidupan dari sumber utama Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, agar tetap relevan menjawab tantangan zaman.

Menurutnya, tradisi tajdid atau pembaruan merupakan salah satu karakter penting gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya. Tajdid tidak berarti mengubah ajaran Islam, melainkan memurnikan dan mengembangkan pemahaman agar tetap sesuai dengan prinsip dasar syariat serta kebutuhan umat manusia yang terus berkembang.

Salah satu contoh aktual dari ijtihad dan tajdid tersebut adalah upaya mengakomodasi Kalender Hijriyah Global. Hamim Ilyas menjelaskan bahwa selama ini umat Islam di berbagai negara sering mengalami perbedaan dalam menentukan awal bulan hijriyah, seperti awal Ramadhan, Idul Fitri, maupun Idul Adha. Perbedaan tersebut muncul karena metode penentuan yang berbeda-beda, baik melalui rukyat maupun hisab dengan berbagai kriteria.

Melalui gagasan kalender hijriyah global, Muhammadiyah mendorong adanya sistem kalender Islam yang bersifat internasional, ilmiah, dan dapat digunakan secara bersama oleh umat Islam di seluruh dunia. Dengan demikian, penentuan awal bulan hijriyah dapat dilakukan secara serentak sehingga memperkuat persatuan umat Islam.

Hamim Ilyas menegaskan bahwa gagasan ini merupakan bentuk ijtihad kolektif yang memanfaatkan perkembangan ilmu astronomi modern. Pendekatan ilmiah tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan justru menjadi sarana untuk mewujudkan kemaslahatan umat secara lebih luas.
“Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk berpikir, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena itu, pemanfaatan ilmu astronomi dalam penentuan kalender hijriyah merupakan bagian dari ijtihad yang sejalan dengan nilai-nilai Islam,” jelasnya.

Lebih lanjut, beliau mengajak umat Islam untuk terus membuka diri terhadap pembaruan pemikiran yang tetap berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan semangat ijtihad dan tajdid, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman sekaligus memperkuat persatuan dalam menjalankan ajaran agama.

Melalui kajian ini, Muhammadiyah kembali menegaskan perannya sebagai gerakan Islam yang tidak hanya menjaga kemurnian ajaran, tetapi juga aktif melakukan pembaruan pemikiran demi kemajuan umat dan peradaban. Semangat ijtihad dan tajdid diharapkan terus hidup sebagai energi intelektual dan spiritual bagi umat Islam dalam membangun masa depan yang lebih baik.

Oleh: Heru Cahyono (Sekretaris MPI PDM Grobogan)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button