Khazanah Islam

Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah | Serial Sirah Nabawi 35

Sejarah sering berubah arah ketika seorang tokoh kehilangan orang-orang terdekatnya. Dalam kehidupan Nabi Muhammad, dua kehilangan datang hampir bersamaan. Abu Thalib wafat lebih dahulu, lalu Khadijah menyusul dalam waktu yang berdekatan. Peristiwa ini membentuk fase baru dalam perjalanan dakwah, ketika perlindungan sosial melemah dan kekuatan batin diuji.

Menjelang wafat, Abu Thalib berada dalam situasi yang menentukan. Nabi memintanya mengucapkan kalimat tauhid. Permintaan itu sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Beliau membisikkan permohonan yang amat sangat: “Wahai paman, ucapkanlah satu kalimat saja, agar aku punya alasan untuk membelamu di hadapan Allah.”

Abu Thalib memahami kebenaran yang dibawa keponakannya. Namun pada saat yang sama, ia hidup dalam masyarakat yang menempatkan kehormatan keluarga di posisi utama. Intervensi tokoh Quraisy yang mengingatkan pada tradisi leluhur membuatnya ragu. Ia tidak ingin meninggalkan identitas sebagai pewaris ‘Abd al-Muththalib.

Peristiwa ini menunjukkan pola yang berulang dalam sejarah manusia. Banyak orang mengetahui kebenaran, tetapi tidak semua berani mengambil keputusan yang menuntut pengorbanan sosial. Dalam berbagai peradaban, perubahan sering tertahan oleh tekanan lingkungan. Pengetahuan saja tidak cukup untuk mendorong tindakan.

Misalnya, pada abad ke-16 di Kekaisaran Romawi Suci, Desiderius Erasmus memahami kritik terhadap praktik gereja dan bahkan mendorong pembaruan intelektual. Namun ia tidak bergabung dengan gerakan Martin Luther pada 1517 di Wittenberg karena khawatir perpecahan akan merusak tatanan sosial dan posisinya sebagai cendekiawan terkemuka.

Di Tiongkok abad ke-11, Sima Guang di Kaifeng mengkritik reformasi radikal Wang Anshi, tetapi banyak pejabat lain yang memahami kelemahan sistem tetap memilih diam demi menjaga jabatan dalam birokrasi kekaisaran.

Dalam konteks kolonial abad ke-20 di Hindia Belanda, sejumlah priyayi Jawa yang bekerja dalam administrasi di Batavia menyadari ketimpangan kolonial, tetapi tetap bertahan karena status sosial dan keamanan ekonomi yang mereka peroleh dari sistem tersebut. Tekanan sosial dan ketakutan kehilangan posisi berulang dalam banyak zaman.

Dalam situasi yang kurang lebih sama, di mana Abu Thalib Terjepit di antara tarikan nurani dan beban sejarah leluhur, ia akhirnya wafat tanpa mengucapkan syahadat. Nabi merasakan kesedihan yang dalam dan berharap dapat memohonkan ampunan untuknya. Harapan ini kemudian dibatasi oleh wahyu.

Allah berfirman: “Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka kerabat dekat.” (QS. at-Taubah: 113). Ayat ini menegaskan bahwa hubungan keluarga tidak mengubah ketentuan iman. Nabi tetap menunjukkan kasih, tetapi tetap tunduk pada keputusan Allah.

Kisah Abu Thalib juga menjelaskan makna iman. Ia mengakui kebenaran, tetapi tidak mengambil langkah untuk tunduk. Dalam Al-Qur’an, sikap seperti ini dijelaskan melalui kisah Iblis: “Ia menolak dan menyombongkan diri, dan termasuk golongan kafir.” (QS. al-Baqarah: 34). Penolakan menjadi inti dari kekufuran. Iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi diwujudkan dalam sikap menerima dan mengikuti.

Tidak lama setelah itu, Khadijah wafat. Kehilangan ini memiliki dimensi yang berbeda. Jika Abu Thalib memberi perlindungan di ruang publik, Khadijah memberi ketenangan dalam kehidupan pribadi. Ketika wahyu pertama datang dan menimbulkan kegelisahan, Khadijah yang menenangkan. Ketika tekanan ekonomi terjadi akibat boikot, ia mengorbankan hartanya. Perannya tidak terlihat di hadapan umum, tetapi menentukan ketahanan mental bagi Nabi.

Dalam waktu singkat, Nabi kehilangan dua penopang utama. Kondisi ini memperberat situasi dakwah. Tekanan dari Quraisy semakin kuat karena tidak ada lagi figur yang melindungi secara sosial. Di sisi lain, kehilangan Khadijah meninggalkan beban emosional yang besar. Periode ini kemudian dikenal sebagai Tahun Kesedihan.

Kehilangan pasangan sering kali menjadi titik kehancuran bagi tokoh besar lainnya dalam sejarah. Ada beberapa contoh paling ikonik dalam sejarah tentang bagaimana seorang penguasa “mati secara mental” setelah kehilangan pasangannya.

Ambilah contoh Shah Jahan yang kehilangan istrinya Mumtaz Mahal pada 1631 di Burhanpur. Setelah itu, ia tenggelam dalam duka yang panjang, menarik diri dari urusan pemerintahan, hingga akhirnya kekuasaannya melemah dan ia dijatuhkan oleh putranya sendiri, Aurangzeb, lalu dipenjara di Agra Fort hingga wafat.

Contoh lain terlihat pada Queen Victoria yang kehilangan suaminya Prince Albert pada 1861 di Windsor Castle. Setelah itu, ia menarik diri dari kehidupan publik selama bertahun-tahun, hampir tidak tampil di hadapan rakyat, dan pemerintahan Inggris sempat mengalami kekosongan simbolik karena absennya figur raja dalam kehidupan publik.

Sekarang, berhentilah sejenak dan tempatkan dirimu di sana. Kamu sedang berada di titik terendah dalam hidup. Mungkin bisnismu baru saja bangkrut, atau studimu terancam putus di tengah jalan. Lalu, di saat kamu butuh support system, orang tua yang menjadi tempatmu mengadu berpulang, dan pasangan yang biasanya di sisimu juga pergi meninggalkanmu sendirian di rumah.

Percayalah, sejarah sedang berbisik kepadamu melalui peristiwa ini bahwa Nabi Saw pun pernah mengalami guncangan mental yang dahsyat. Jika sosok yang memikul beban risalah seluruh alam saja diizinkan Tuhan untuk merasa hancur, maka kamu pun berhak merasa tidak baik-baik saja. Kamu tidak lemah karena bersedih; kamu sedang menjadi manusia.

Namun, dalam duka yang hebat itu, pastikan kamu juga menemukan perlahan kekuatan untuk bangkit kembali. Karena setelah badai ujian di Mekkah ini, sejarah mencatat ada cahaya kemenangan yang menanti di Madinah.

Dalam kerangka sejarah yang lebih luas, fase traumatik ini menandai sebuah peralihan besar di dunia Islam. Perlindungan lama yang berbasis kesukuan berakhir, memaksa gerakan Islam awal ini mencari tatanan baru. Tidak lama setelahnya, kegagalan di Thaif dan keputusan untuk hijrah membuka lembaran baru yang mengubah peta dunia selamanya.

Referensi:

Martin Lings, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, London: George Allen & Unwin, 1983, 21.

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button