Empat Qimah dan Kebahagiaan Seorang Mukmin

Dalam hidup ini, manusia selalu mengejar sesuatu yang dianggap bernilai. Kita bekerja, belajar, berdagang, beribadah, dan berinteraksi dengan sesama karena kita merasa ada nilai yang ingin kita raih.
Dalam kitab Nidzamul Islam karangan An Nabhani, ada 4 nilai (qimah) dalam hidup yang bisa kita raih:
Pertama, Qimah Madiyah, yaitu nilai materi. Ketika seseorang bekerja lalu memperoleh gaji, ketika berdagang lalu mendapatkan keuntungan, atau ketika membeli rumah dan kendaraan, maka ia sedang memperoleh nilai materi.
Kedua, Qimah Ruhiyah, yaitu nilai spiritual. Ketika seseorang shalat dengan khusyuk, membaca Al-Qur’an, berdoa di sepertiga malam, atau menahan diri dari maksiat karena takut kepada Allah, maka ia memperoleh nilai ruhiyah.
Ketiga, Qimah Akhlaqiyah, yaitu nilai moral. Ketika seseorang jujur meskipun merugikan dirinya, menepati janji meskipun sulit, atau tetap amanah ketika tidak ada yang melihat, maka ia memperoleh nilai akhlak.
Keempat, Qimah Insaniyah, yaitu nilai kemanusiaan. Ketika kita membantu orang yang kesulitan, menghibur yang berduka, atau menyantuni anak yatim, maka kita memperoleh nilai kemanusiaan.
Pertanyaannya, selama ini nilai apa yang paling banyak kita kejar? Berapa jam dalam sehari kita habiskan untuk mengejar qimah madiyah? Dan berapa banyak waktu yang kita sisihkan untuk meraih qimah ruhiyah, qimah akhlaqiyah, dan qimah insaniyah? Jangan-jangan kita telah menghabiskan hampir seluruh umur untuk mengumpulkan satu jenis nilai, sementara tiga nilai lainnya justru terabaikan.
Setiap manusia mencari kebahagiaan. Ada yang mencarinya dalam harta, ada yang mencarinya dalam jabatan, ada yang mencarinya dalam popularitas. Namun realitas menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang memiliki semuanya, tetapi tetap merasa gelisah, cemas, dan hampa.
Mengapa?
Karena kebahagiaan tidak lahir hanya dari qimah madiyah. Harta memang penting, tetapi harta hanya memenuhi sebagian kebutuhan manusia. Manusia bukan hanya jasad yang membutuhkan makan dan minum, tetapi juga memiliki hati yang membutuhkan ketenangan, jiwa yang membutuhkan kedekatan dengan Allah, dan fitrah yang membutuhkan kasih sayang serta kemuliaan akhlak.
Ketika seseorang hanya mengejar qimah madiyah, ia akan terus merasa kurang. Setelah mendapatkan satu, ia ingin yang kedua. Setelah mencapai yang kedua, ia mengejar yang ketiga. Keinginannya tidak pernah berakhir.
Namun ketika qimah madiyah, qimah akhlaqiyah, dan qimah insaniyah diarahkan dan dibimbing oleh qimah ruhiyah, maka hidup menjadi utuh. Harta menjadi berkah karena digunakan di jalan Allah. Akhlak menjadi bernilai ibadah. Kepedulian menjadi jalan meraih ridha-Nya. Dan hubungan dengan Allah membuat hati menjadi tenang.
Allah SWT berfirman, yang artinya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (TQS. Ar-Ra’d: 28)
Oleh karena itu, kebahagiaan bukan sekadar memiliki harta, bukan pula sekadar dipuji karena akhlak yang baik atau dikenal sebagai orang yang dermawan.
Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika seluruh qimah yang kita raih diarahkan untuk mencari ridha Allah SWT. Sebab qimah madiyah tanpa iman bisa melahirkan keserakahan, qimah insaniyah tanpa iman bisa melahirkan pencitraan, dan qimah akhlaqiyah tanpa iman bisa menjadi sekadar kebiasaan. Namun ketika semuanya dibangun di atas qimah ruhiyah, maka seluruh aktivitas hidup berubah menjadi jalan menuju keridhaan Allah. Di situlah letak kebahagiaan seorang mukmin.
Kelak ketika usia kita berakhir, yang akan ditinggalkan bukan hanya rumah, kendaraan, jabatan, atau saldo rekening. Yang akan menemani kita adalah amal yang telah kita persembahkan kepada Allah. Saat itulah kita menyadari bahwa nilai yang paling berharga bukanlah yang tersimpan di dunia, melainkan yang tersimpan di sisi-Nya.
“Harta akan ditinggalkan, manusia akan dilupakan, dan jabatan akan berakhir. Namun ridha Allah tetap abadi. Karena itu, bukan banyaknya qimah yang kita raih yang membuat kita bahagia, melainkan ketika seluruh qimah itu mengantarkan kita kepada ridha Allah SWT.”
Wallaahu a’lam bish-shawaab
Saudaramu HT




