Menakar Sikap Muhammadiyah di Tengah Konflik Timur Tengah

Jam menunjukkan hampir pukul 22.00 WIB. Suasana Ramadan tahun ini terasa begitu hidup. Grup WhatsApp “Remaja Masjid KH Ahmad Dahlan” tak henti-hentinya bergetar. Isinya campur aduk, mulai dari koordinasi jadwal imam tarawih, laporan sisa takjil sore tadi, sampai obrolan ringan yang tak berujung.
Di kamarnya, Imron Rivaldi sedang rebahan santai sambil menyimak riuhnya notifikasi. Jempolnya iseng men-scroll portal berita internasional. Namun, sedetik kemudian, ia langsung terduduk tegak. Matanya membelalak menatap layar.
Berita Utama: Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Wafat Akibat Serangan Udara Gabungan AS-Israel di Teheran.
Tanpa pikir panjang, jempolnya langsung menari di atas keyboard grup.
Imron Rivaldi: “Guys, baru saja ada kabar duka yang luar biasa besar.”
Moyo Tantular: “Apaan, Mron? Jangan bikin panik.”
Abyan Kuncoro: “Kabar apaan lagi nih malam-malam?”
Dinda Hafsah Mewangi: “Kebiasaan suka tiba-tiba ilang.”
Moyo Tantular: “Pengalaman banget ya, Din.”
Dinda Hafsah Mewangi: “Bangeeet! Males,”
Mira Latuconsina: “Sabar ya, Din… orang ganteng emang gitu, suka mendadak raib.”
Dua menit berlalu tanpa jawaban. Teman-temannya mulai mengirim stiker-stiker usil, sampai akhirnya Imron muncul kembali.
Imron Rivaldi muncul: “Maaf tadi harus tadarus dulu biar nggak kayak Moyo.”
Moyo Tantular: “Emang aku kenapa?”
Dinda Hafsah Mewangi: “Langsung ke intinya bisa kali, Kak.”
Imron Rivaldi: “Okay, okay. Ini ada kabar Ayatollah Ali Khamenei wafat akibat serangan militer AS-Israel. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah ampuni dan rahmatkan beliau serta seluruh korban jiwa. Amin.”
Layar HP langsung dipenuhi emoji tangan terangkat berdoa dari Abyan, mata berlinang dari Mira, hingga simbol hati pecah dari anggota lain. Deretan kata “Amin” pun mengalir deras. Mira bahkan sempat mengirim voice note pendek dengan suara bergetar, “Ya Allah… lindungi umat di sana.” Moyo menyusul dengan membagikan link berita resmi dari media internasional tentang perang Iran melawan Amerika dan Israel: “Innalillahi… dunia lagi nggak baik-baik saja.”
Moyo Tantular: “Aamiin… Tapi, guys, PP Muhammadiyah udah keluarin pernyataan resmi belum yaa? Semoga aja ada soalnya ini isu gila banget, pelanggaran HAM internasional, potensi perang dunia ini mah!”
Imron Rivaldi: “Kayaknya belum.”
Dinda Hafsah Mewangi: “Wajar kok belum keluar. Harus musyawarah dulu, rapat PP Muhammadiyah. Kan organisasi bukan akun personal yang bisa asal update status.”
Moyo Tantular: “Iya juga sih.”
Dinda Hafsah Mewangi: “Organisasi besar gini nggak bisa spontan, biar suaranya kuat. Denger pendapat yang lain dulu. Gitu. Kalau buru-buru, malah bisa jadi nggak bijak atau malah dikira reaksioner. Sabar dikit kenapa, insyaAllah PP Muhammadiyah pasti keluar sikap yang representatif kok.”
Pesan Dinda langsung dapet banyak react jempol dan love dari anggota lain. Beberapa ada yang membalas, “Betul Din, mending matang daripada asal bunyi,” dan “Setuju, musyawarah itu ciri kita.”
Imron cuma baca tanpa niat membalas. Statusnya yang semula online langsung berubah jadi offline. Entah dia lagi merenungkan kata-kata Dinda, atau mungkin emang lanjut tadarus buat ngejar target khatamannya malam itu.
Dua hari berlalu tanpa kabar. Imron bolak-balik cek Instagram @lensamu dan refresh berkali-kali situs muhammadiyah.or.id, tapi hasilnya nihil. Belum ada tanda-tanda rilis pernyataan resmi.
Rasa kesal bercampur kecewa akhirnya meluap. Imron buka aplikasi X (Twitter) dan jempolnya langsung lincah merangkai kalimat “pedas” khas kader kritis:
“Terpantau ormas Islam modern terbesar di Indonesia belum kasih pernyataan resmi soal perang Iran lawan Amerika dan Israel. Udahlah… kecewa sih. Di bulan Ramadan lagi, isu sebesar ini kok diem aja. Mana semangat amar ma’ruf-nya?”
Seperti yang sudah-sudah, kalau Imron mulai “menyenggol” rumahnya sendiri, engagement-nya langsung meledak. Kader internal yang berani vokal ke organisasi memang selalu jadi magnet netizen. Dalam hitungan jam, cuitannya sudah tembus ratusan interaksi. Notifikasinya ramai. Dari yang setuju dengan komentar “Bener banget, lama amat!”, yang ikut nyinyir “Muhammadiyah kok jadi begini?”, sampai kubu pembela persyarikatan yang membalas “Sabar, semua ada prosesnya, jangan jadi kader yang kagetan gumunan!”
Di balik layar, meski hatinya benar-benar prihatin dengan situasi dunia, Imron tak bisa memungkiri ada desiran adrenalin saat melihat angka like dan retweet terus naik. Rasanya ada kepuasan tersendiri saat banyak orang setuju dengan opininya.
Dinda langsung lihat cuitan itu pas lagi istirahat setelah salat tarawih. Dia langsung DM privat ke Imron. Dia nggak mau diskusi sensitif ini kelihatan di kolom balasan publik.
Dinda: “Kak Imron, cuitanmu tadi lewat di timeline-ku. Jujur ya, kayaknya Kakak ini bukan beneran nunggu pernyataan resminya deh, tapi emang lagi nyari bahan buat kritik Muhammadiyah aja. Kebetulan isunya seksi, langsung jadi amunisi, kan?”
Imron: “Loh? Kok gitu sih, Din. Aku beneran prihatin, beneran. Korban jiwa udah banyak, pimpinan negara berdaulat dibunuh superpower. Muhammadiyah kok malah sunyi senyap? Harusnya gercep dong kasih suara, biar umat nggak bingung.”
Dinda: “Masalahnya, aku ngerasa Kakak bukan murni prihatin sama isu Timur Tengahnya, tapi lebih ke seneng karena punya konten baru buat nyari engagement tinggi di X. Ya, kan?”
Imron: “Enggak gitu juga lah, Din. Aku emang prihatin banget. Cuma ya… kalau rame di X, setidaknya bisa dorong diskusi yang lebih luas. Bukan sekadar haus interaksi doang. Kalau kita semua diem, siapa lagi yang mau peduli?”
Dinda: “Oh gitu… ya udah kalau emang tulus. Tapi hati-hati ya, Kak. Jangan sampai rasa prihatinnya malah kecampur sama rasa seneng gara-gara liat notif numpuk.”
Imron: “Okay.”
Obrolan mereka berhenti di situ. Setelah Imron bilang “Okay”, Dinda diam sejenak di balik layar HP-nya dan menyadari bahwa posisi dan sikap Muhammadiyah ternyata tetap ditunggu banyak orang. Dianggap penting. Dinda tersenyum kecil sendiri. Kritik Imron, meski kadang nyinyir, justru bukti bahwa sikap Muhammadiyah tetap menjadi rujukan moral di mata anak muda seperti mereka.
Dinda kemudian scroll Instagram sambil makan cemilan tahu walik. Tiba-tiba muncul postingan dari akun Lensamu: foto surat resmi PP Muhammadiyah dengan headline “Pernyataan Sikap PP Muhammadiyah Soal Konflik Timur Tengah”.
Dinda langsung duduk tegak, lalu buka website muhammadiyah.or.id untuk konfirmasi. Benar, pernyataan nomor 16/PER/I.0/B/2026 sudah tayang.
Pernyataan itu menyampaikan prihatin mendalam atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dan korban serangan AS-Israel ke Iran, sekaligus belasungkawa untuk korban serangan balik Iran di negara-negara Arab. Muhammadiyah mengecam keras serangan tersebut sebagai pelanggaran berat HAM, hukum internasional, dan pengabaian keputusan PBB. Muhammadiyah juga menyerukan sanksi tegas dari PBB terhadap AS dan Israel, mendorong OKI serta PBB segera akhiri genosida di Palestina dan segala kekerasan di kawasan, serta mengajak Iran dan negara-negara Arab saling menahan diri sambil mengedepankan dialog dan diplomasi.
Di bagian akhir, Muhammadiyah mengajak semua pihak dari negara, tokoh agama, hingga masyarakat sipil, untuk bersama-sama menciptakan kedamaian dan keadilan global, serta mengecam segala tindakan semena-mena yang menghancurkan peradaban.
Dinda langsung copy link-nya dan share ke grup WA “Remaja Masjid KH Ahmad Dahlan”.
Dinda: “Alhamdulillah, akhirnya keluar juga sikap resmi PP Muhammadiyah. Cek deh, guys.”
Seketika, grup yang tadi agak tenang langsung meledak lagi. Layar HP penuh dengan stiker senyum, tangan terangkat berdoa, dan emoji hati yang bertebaran. Beberapa anggota buru-buru memberi react pada pesan Dinda.
“Alhamdulillah banget!” sahut salah satu anggota. “Syukur ya Rabbal alamin, akhirnya keluar juga. Sabar emang kunci,” timpal yang lain. Mira mengirim voice note pendek dengan suara ceria, “Makasih Din share-nya! Aku baca dulu ya semuanya.” Sementara Abyan mengirim stiker Mama Ghufron yang lagi mengacungkan jempol.
Tapi euforia itu nggak bertahan lama. Imron muncul kembali dengan komentar sinis tapi realistis.
Imron Rivaldi: “Tapi emang ngaruh ya Muhammadiyah bikin seruan kayak gini? Apa kalau surat ini keluar, terus perang di sana langsung berhenti gitu aja?”
Pertanyaan itu memancing keraguan anggota lain.
Anggota Lain: “Iya, dunia politik internasional kayaknya nggak bakal peduli sama surat dari ormas di Indonesia.”
Imron Rivaldi: “Nah kan, terus buat apa kalau gitu?!”
Dinda yang lagi asyik nyomot tahu walik sampai berhenti mengunyah. Ia geleng-geleng kepala menatap layar. Ini orang dari kemarin maksa-maksa PP Muhammadiyah buat keluarin sikap, giliran sudah rilis malah didebat lagi kegunaannya. Gemes banget. Dinda langsung mengetik balasan panjang dengan nada yang lebih tegas.
Imron baca, langsung react emoji menangis. Dia langsung balas.
Imron Rivaldi: “Ya terus buat apa?”
Dinda menarik napas, ia pengen Imron tuh paham kalau narasi organisasi semacam Muhammadiyah itu bukan soal “sakti-saktian” di kancah politik, tapi soal prinsip.
Dinda Hafsah Mewangi: “Gini loh Kak Imron… kita realistis aja, suara ormas emang nggak bakal langsung bikin rudal berhenti terbang di sana. Tapi poinnya bukan itu.”
Imron Rivaldi: “Trus poinnya di mana, Dinda?”
Dinda Hafsah Mewangi: “Nah poinnya adalah kita jadi tahu Muhammadiyah berdiri di mana. Di tengah dunia yang lagi kacau gini, kita butuh arah. Biar nggak kebawa emosi, nggak asal ikut narasi sana-sini. Pernyataan kayak gini tuh semacam kompas buat jamaahnya. Kita jadi punya pegangan gimana harus bersikap, gimana ngomong, gimana lihat persoalan. Nggak liar sendiri-sendiri.”
Dinda tambah lagi, makin santai tapi tetap kena.
Dinda Hafsah Mewangi: “Dan ya, mungkin sekarang keliatannya ‘cuma surat’. Tapi 50 tahun lagi orang bisa lihat arsipnya dan tahu: ‘oh, waktu itu Muhammadiyah nggak diem, nggak salah posisi, nggak dukung yang zalim. Itu penting loh buat jejak sejarah.”
Moyo Tantular: “Nah! Daging semua itu kata-kata Dinda.”
Imron cuma baca. Dia cuma ngasih reaksi emoji jempol tanpa ngetik apa-apa lagi. Sepertinya omongan Dinda kali ini beneran nancap dan bikin dia mikir dua kali sebelum nyinyir lagi.
Oleh : Ilham – Muhammadiyah.or.id




