News

Pengajian Ramadhan, Buka Puasa dan Pembagian Zakat serta Santunan Yatim Piatu PCM Kedungjati, Kabupaten Grobogan

Kedungjati, 13 Maret 2026 – Dalam rangka memperkuat solidaritas sosial dan mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan, pengajian Ramadhan yang diadakan di Desa Ngombak, Kedungjati, menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi di antara warga. Acara ini tidak hanya diisi dengan tausiyah, tetapi juga menggarisbawahi komitmen masyarakat untuk memberikan zakat dan santunan kepada yatim piatu oleh LAZIZMU Grobogan dan pemberian Al-Qur’an dari kampus ITBMG (Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Grobogan. Kegiatan ini mencerminkan kepedulian kolektif dan kesadaran sosial masyarakat setempat dalam mendukung anak-anak yang membutuhkan, serta mengajak semua pihak untuk lebih aktif dalam berbagi dan memberikan kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung. Dengan mengintegrasikan pengajian dan aksi sosial ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang penuh kasih sayang dan kepedulian antar sesama.

Dengan semangat menghadirkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-‘alamin, Ir. H. Jati Purnomo, M. Si selaku Rektor ITBMG mengedepankan tujuan bermuhammadiyah yang lebih besar, yaitu untuk berdakwah di dunia dan akhirat. Dengan berfokus pada pendidikan dan penguatan karakter, Jati Purnomo berkomitmen untuk mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki iman dan akhlak yang baik. Kegiatan yang dilakukan oleh PCM Kedungjati yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kader Muhammadiyah yang siap berkontribusi positif bagi masyarakat.

Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, Jati Purnomo menyampaikan program pengajian dan santunan yang melibatkan anggota dan pengurus serta masyarakat umum. Dengan pendekatan yang mendalam dan praktis, setiap masyarakat diharapkan dapat memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan lebih baik. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahim antaranggota, memperkuat rasa kebersamaan dalam menjalankan misi dakwah kepada masyarakat.

Melalui program-program tersebut, Jati Purnomo ingin menunjukkan bahwa bermuhammadiyah bukan hanya sekadar identitas, tetapi juga merupakan komitmen untuk membawa perubahan yang nyata di lingkungan sekitar. Dengan bersinergi dan saling mendukung, diharapkan setiap kader dapat menjadi agen perubahan yang membumikan nilai-nilai Islam di dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia maupun di akhirat.

Sedangkan H. Sukarno, S. Ag salah satu Pimpinan Daerah Muhammadiyah Grobogan, membuka ceramahnya dengan menyerukan kepada semua untuk melaksanakan ibadah puasa sebagai cara untuk mencapai kesehatan, kebahagiaan, dan rasa syukur. Ia menekankan bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang mengasah jiwa dan meningkatkan keimanan. Dengan berpuasa, umat Islam diajak untuk lebih menghargai nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dan menggali potensi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam ceramahnya, Sukarno menjelaskan bahwa orang yang berpuasa merasakan dua kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan pertama adalah saat menjelang berbuka puasa, ketika segala penantian selama seharian terbayar dengan sahur yang penuh rasa syukur. Kebahagiaan kedua adalah saat menemui Allah SWT di akhirat, di mana pahala dari ibadah puasa akan dibagikan. Keinginan untuk dipertemukan dengan Sang Pencipta menjadi motivasi tambahan bagi setiap Muslim untuk menjalankan ibadah puasa dengan penuh khidmat.

Sukarno juga menjelaskan bahwa puasa adalah ibadah yang khusus dari Allah. “Puasa adalah untukku, dan akulah yang akan memberikan pahalanya,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa syarat untuk masuk surga adalah ketakwaan kepada Allah, yang mana tidak ditentukan oleh keanggotaan organisasi, meskipun organisasi dapat menjadi sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian, setiap individu diharapkan mampu meningkatkan ketakwaan secara pribadi.

Lebih lanjut, Sukarno, menekankan pentingnya zakat sebagai penyempurnaan ibadah puasa. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan Lazizmu (Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh Muhammadiyah) telah mendapat predikat baik, menunjukkan kredibilitas dan transparansi dalam pengelolaan zakat. Zakat, yang sebaiknya diberikan dalam bentuk makanan pokok, berfungsi untuk membersihkan harta dan juga menghapus dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Ia menegaskan bahwa pentingnya memberikan zakat sebelum shalat Idul Fitri, agar dapat dikategorikan sebagai zakat dan bukan sekadar sedekah. Jika dilaksanakan setelah shalat, maka ia hanya dianggap shodaqoh biasa. Dengan berpuasa dan menunaikan zakat, seseorang akan mendapatkan predikat sebagai orang yang bertakwa. Sukarno menutup ceramahnya dengan harapan agar umat Islam dapat terus meningkatkan ketakwaan dan bersyukur atas nikmat yang diberikan, serta aktif berkontribusi dalam masyarakat melalui zakat dan amal sholeh lainnya.

Oleh: Suyadi LDK Grobogan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button