PDM Grobogan

Kebersamaan Muhammadiyah Grobogan dalam Pengajian Ramadan di kampus UNIMUS

Semarang, 14 Maret 2026 – Dalam suasana yang penuh semangat dan kebersamaan, Muhammadiyah Grobogan mengadakan pengajian yang istimewa di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Acara ini dihadiri oleh rombongan yang berjumlah signifikan, termasuk satu armada bis besar dan lima mobil pribadi, yang membawa para anggota dan pengurus organisasi untuk memperkuat silaturahim serta memperdalam pemahaman agama. Kehadiran mereka di Unimus bukan hanya untuk mengikuti pengajian, tetapi juga untuk menjalin kerjasama yang lebih erat dengan institusi pendidikan tersebut yang memiliki visi unggul dalam mewujudkan pendidikan berkualitas demi kemajuan umat.

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang, Budi Santoso, memberikan sambutan hangat sebagai tuan rumah dalam acara Pengajian Ramadan 1447 H, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Jawa Tengah (Regional Semarang Raya) di kampus UNIMUS. Beliau juga menyampaikan bahwa saat ini kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) berada di Lantai 9 Gedung Unimus 3. Dalam sambutannya, Budi menekankan pentingnya keberadaan kantor PWM sebagai pusat aktivitas yang akan mendukung perkembangan Muhammadiyah di Jawa Tengah. Kehadiran kantor ini diharapkan dapat memperkuat peran dan kontribusi Muhammadiyah dalam masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan dan sosial.

Dalam sambutannya, Budi Santoso juga menyampaikan visi kampus Unimus yang “Menyenangkan, Menggembirakan,” serta berkomitmen untuk memajukan pendidikan yang berkualitas. Visi ini tidak hanya menggambarkan suasana akademis yang kondusif, tetapi juga mencerminkan semangat untuk menciptakan lingkungan belajar yang menarik bagi para mahasiswa. Dengan komitmen ini, Unimus berupaya untuk menjadi universitas yang terdepan dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di tingkat nasional, tetapi juga global.

Dalam konteks prestasi, Budi memaparkan bahwa Unimus saat ini berada di peringkat ke-592 tingkat global sedangkan tingkat nasional peringkat ke 59. Selain itu, Unimus juga menempati peringkat pertama di antara 24 perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia. Pencapaian ini menunjukkan dedikasi institusi dalam memberikan pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, semua komponen di kampus diharapkan dapat bersinergi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.

Lebih lanjut, Budi juga membahas kemajuan beberapa jurnal internasional yang kini sedang dalam proses submit. Ini adalah langkah positif bagi Unimus dalam memperluas jaringan akademis dan meningkatkan visibilitasnya di kancah global. Dengan lebih banyak penelitian yang dipublikasikan di jurnal internasional, diharapkan Unimus dapat berkontribusi lebih banyak dalam dunia akademis dan penelitian.

Budi Santoso menutup sambutannya dengan mengajak semua peserta untuk bersama-sama memperkuat aqidah Islam yang berkemajuan. Penguatan aqidah ini sangat penting dalam membangun karakter dan integritas mahasiswa, sehingga mereka tidak hanya menjadi lulusan yang cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Dengan menambah fasilitas dan mendukung kegiatan yang mendorong kekhusukan, Unimus bertujuan untuk menciptakan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Sementara itu, Pimpinan ‘Aisyiyah Jawa Tengah, Eni Winaryati, memberikan pujian kepada semua hadirin dengan mengatakan bahwa ‘Aisyiyah adalah organisasi yang sangat istimewa dan berharga. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa Muhammadiyah telah berusia 113 tahun, sementara ‘Aisyiyah menyusul dengan usia 108 tahun. Keduanya telah menorehkan sejarah yang signifikan bagi Indonesia, terutama dalam proses kemerdekaan. Eni mengajak semua anggota ‘Aisyiyah untuk terus menjaga semangat perjuangan yang telah lama mengakar dalam organisasi ini.

Dalam era yang serba cepat ini, Eni juga menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, ‘Aisyiyah tidak ingin tertinggal dan berkomitmen untuk menghadirkan program-program yang inovatif dan kritis. Ia memberikan ilustrasi bahwa interaksi manusia saat ini hampir serupa dengan hubungan antara manusia dan jin, di mana komunikasi dan hubungan bisa terjalin tanpa terhalang waktu dan jarak. Hal ini menunjukkan perlunya pemikiran maju dalam menghadapi tantangan zaman.

Sejalan dengan itu, Eni menjelaskan bahwa ‘Aisyiyah mengembangkan program kerja sistem digitalisasi yang mengikuti perkembangan zaman. Dalam konteks ini, banyak tantangan seperti kesenjangan sosial dan mental yang perlu diatasi. Oleh karena itu, Eni menegaskan bahwa ‘Aisyiyah hadir dengan solusi konkret melalui program ekonomi kreatif yang difasilitasi oleh pendirian PT Ekonomi ‘Aisyiyah. Produk yang ditawarkan, seperti wafer cahaya, skincare, dan kopi murah, dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memberdayakan ekonomi umat.

Konsep penguatan kemandirian ekonomi umat menjadi salah satu fokus utama ‘Aisyiyah dalam kolaborasi dengan PWM. Salah satu inisiatif yang diusung adalah pemberian parcel wafer atau roti cahaya kepada masyarakat. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk mendistribusikan produk, tetapi juga untuk mendekatkan ‘Aisyiyah dengan masyarakat, sehingga memperkuat kedekatan dan kepedulian sosial antar anggota.

Dengan langkah-langkah ini, Eni Winaryati berharap ‘Aisyiyah dapat terus berkembang dan berkontribusi positif dalam masyarakat. Semangat kolaborasi dan inovasi adalah kunci untuk menghadapi tantangan masa depan. Melalui program-program yang dibangun, ‘Aisyiyah berkomitmen untuk terus menjadi penggerak perubahan, memperkuat kemandirian ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup umat di Indonesia.

Wahyudi, sebagai salah satu pimpinan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, menyampaikan bahwa saat ini trend mudik mulai terlihat. Hal ini berkaitan dengan tradisi berbakti kepada orangtua, sebuah nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya kita. Mudik bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga simbol dari rasa cinta dan penghormatan kepada orang-orang yang telah berkorban untuk kita.

Setiap tahun, PWM menyelenggarakan pengajian dengan tujuan mulia untuk meningkatkan pemahaman tentang Islam yang berkemajuan. Acara ini juga menjadi kesempatan bagi umat untuk memperoleh keyakinan bahwa penentuan awal puasa dan Idul Fitri sudah berdasarkan kalender yang ditetapkan dengan tepat. Dengan begitu, umat dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan terarah.

Wahyudi menjelaskan bahwa rukun Islam merupakan bangunan dasar dari ajaran yang telah disepakati oleh ulama. Rukun tersebut berfungsi sebagai tiang penyangga yang menjaga integritas ajaran Islam. Dengan memahami dan mengamalkan rukun tersebut, umat dapat memperkuat fondasi keimanan dan ketakwaan mereka.

Saat ini, penting bagi kita untuk mengkaji dan berpikir ulang tentang hal-hal yang sudah mapan. Kita tidak boleh terjebak dalam tradisi tanpa mempertimbangkan dasar dan ilmu yang kuat. Kritis terhadap pemahaman kita akan membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam dan mencerahkan.

Di tengah beragam perbedaan pendapat di dalam fikih, Wahyudi mengingatkan bahwa Muhammadiyah hadir sebagai agen pembaruan. Kebenaran dalam konteks ajaran Islam tidaklah absolut; sebaliknya, wahyu merupakan kebenaran yang mutlak. Dengan memahami perbedaan ini, kita diharapkan mampu lebih bijak dalam menilai isu-isu yang berkembang.

Fenomena berpikir kritis saat ini sangat penting, terutama dalam konteks permasalahan sosial seperti yang berkaitan dengan konsumsi daging babi, yang jelas merupakan hal haram. Namun, dengan populasi babi yang kini melebihi populasi manusia, ini menjadi tantangan bagi kita untuk berpikir secara logis dan bertanggung jawab. Menghadapi fakta-fakta ini merupakan bagian dari proses pembelajaran.

Wahyudi juga menekankan perlunya menyegarkan pemahaman aqidah kita. Ia merujuk pada surat Iqro’ yang mengajak kita untuk “bacalah.” Saya mengajak semua umat untuk belajar lebih mendalam dan memahami substansi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan kita dengan ajaran-ajaran tentang hari kiamat juga perlu disoroti. Hari kiamat, sebagai kehancuran bumi, merupakan tema yang kompleks, dan pakar dari berbagai belahan dunia memiliki pandangan berbeda. Ada yang mengatakan bahwa kematian setiap individu sejatinya merupakan bagian dari kiamat sugro. Ini mengingatkan kita untuk selalu introspeksi dan menyadari bahwa catatan amal kita akan diperlihatkan di akhirat.

Dalam perspektif aqidah, tauhid adalah substansi dari ajaran Islam, sedangkan aqidah itu sendiri berperan sebagai rumahnya. Aqidah Islam yang moderat dan progresif akan mendorong munculnya amal-amal baik yang bermanfaat bagi masyarakat dan kesalehan sosial. Setiap tindakan baik yang dilakukan secara berjamaah memiliki bobot yang lebih tinggi, mirip dengan ajaran yang telah disampaikan oleh para Walisongo.

Akhirnya, Wahyudi mengajak semua anggota PWM untuk terus memupuk nilai-nilai keagamaan dan sosial yang tinggi. Dengan cara ini, kita tidak hanya meningkatkan kualitas diri, tetapi juga kontribusi kita kepada masyarakat dan umat secara keseluruhan. Mari kita terus berjuang untuk mencapai Islam yang berkemajuan, demi kebaikan umat dan bangsa.

Sedangkan Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, atau yang lebih dikenal dengan sebutan AHAU, memberikan paparan menarik tentang Aqidah Islam Berkemajuan di hadapan para hadirin. Dengan gaya penyampaian yang sangat detail dan menggugah, beliau mampu menarik perhatian semua yang hadir. Suasana di dalam ruangan berubah menjadi penuh keceriaan, dengan banyaknya senyum dan tawa dari para pendengar yang terlibat dalam diskusi yang dihadirkan.

Dalam penjelasannya, AHAU membandingkan aqidah Islam dengan seseorang yang terlahir tanpa nama. Untuk membedakannya, dibuatlah sebuah tanda yang kita sebut sebagai nama. Dengan cara ini, beliau menunjukkan bahwa aqidah memiliki peranan yang sangat penting dalam memandu kehidupan kita. Tanpa pemahaman yang jelas tentang aqidah, seseorang akan merasa kehilangan arah dan identitas dalam menjalani kehidupan beragama.

Lebih lanjut, AHAU menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat tiga istilah kunci: rukun, aqidah, dan sunah. Rukun, menurut beliau, merupakan tiang penyangga ajaran Islam yang terdiri dari enam komponen penting. Rukun bukan sekadar tuntutan, melainkan fondasi yang harus dipatuhi agar praktik beragama kita tetap terjaga. AHAU menekankan bahwa rukun harus dijalankan secara runtut, tidak terputus, dan sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama.

Ilmu kalam, yang menjadi bagian dari diskusi AHAU, juga memperoleh perhatian khusus. Beliau menjabarkan bagaimana ilmu ini mempelajari sifat Allah, kenabian, dan takdir. Pemahaman yang mendalam tentang ilmu kalam akan membantu umat Islam mengembangkan pengetahuan spiritual yang lebih baik. Hal ini, menurut AHAU, sangat krusial dalam konteks aqidah yang berkemajuan, di mana pengetahuan dan pemahaman harus senantiasa diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dalam kesimpulannya, AHAU mendorong hadirin untuk terus memperdalam pemahaman mereka tentang aqidah Islam. Dengan cara ini, bukan hanya akan memperkuat keimanan individu, tetapi juga akan mendukung tumbuhnya masyarakat yang beradab dan sejahtera. Energi positif yang terpancar dari para pendengar menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam tentang aqidah tidak hanya bermanfaat secara spiritual, tetapi juga mampu membawa kebahagiaan dan keceriaan dalam hidup sehari-hari.

Dipertegas oleh Prof. Hamim Ilyas memaparkan mengenai Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) dengan konsep yang mengedepankan prinsip dan parameter yang jelas. Dalam presentasinya, beliau menjelaskan bahwa beragama, beriman, dan beramal sholeh adalah bagian integral dari hidup yang baik. Hal ini mencakup keyakinan akan rezeki yang halal serta pencarian kepuasan dan kebahagiaan yang sejati dalam setiap aspek kehidupan.

Beliau menekankan bahwa cara berislam yang baik seharusnya mengarah pada kesejahteraan yang terus-menerus ditingkatkan. Di dalam masyarakat yang ideal, tidak ada ruang untuk ketakutan atau kecemasan, baik dalam konteks politik maupun ekonomi. Menurut Prof. Hamim, keadaan damai dan tenteram adalah tujuan bersama, dan setiap individu seharusnya tidak merasa sedih, risau, atau mengalami stres. Sebaliknya, kita seharusnya berupaya untuk mencari kebahagiaan yang hakiki.

Kesejahteraan, menurut Prof. Hamim, dapat dimaknai sebagai hasil dari gerakan sholat yang patuh dan tunduk kepada Allah. Gerakan ini meliputi kesadaran untuk selalu menebarkan perdamaian dan kebaikan di sekitar kita. Sholat tidak hanya menjadi sarana komunikasi dengan Sang Pencipta, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan sosial dan spiritual seseorang.

Di dalam kerangka pemikiran Muhammadiyah, berjuang untuk amalan yang mendatangkan kesejahteraan adalah sebuah misi yang dijunjung tinggi. Makna sholat, dalam hal ini, melangkah lebih jauh dari sekadar ritual, tetapi ditujukan untuk mencapai kesholehan baik secara individu maupun sosial. Ini adalah bentuk komitmen untuk menjadikan setiap tindakan sebagai amal yang bernilai.

Prof. Hamim menekankan pentingnya mengkaji lima masalah mendasar, yakni agama, dunia, ibadah, sabilillah, dan istihat atau kias. Setiap elemen tersebut memiliki peranan penting dalam membentuk karakter dan perilaku individu dalam masyarakat. Sebagai umat Muslim, memahami dan mengimplementasikan kelima pilar ini akan membawa kita kepada kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna, sejalan dengan prinsip dan tujuan KHGT yang mendukung kesatuan dan keharmonisan dalam beribadah.

Prof. Anam Sutopo memberikan penjelasan mendalam mengenai SATUMU, sebuah aplikasi yang dirancang untuk memudahkan akses informasi dan mempercepat perkembangan data dalam organisasi. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk melihat secara cepat dan efisien informasi terkini mengenai berbagai program dan kegiatan di Muhammadiyah. Dengan adanya SATUMU, diharapkan semua anggota organisasi dapat mengakses data yang diperlukan dengan lebih mudah dan cepat.

Untuk mempercepat implementasi dan penggunaan SATUMU, Prof. Anam menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara berbagai tim, seperti Tim MPI, LPCR, sekretariat PP, dan Lab. Mu. Kerja sama ini akan memastikan bahwa semua komponen yang terlibat dapat berfungsi dengan baik dan mendukung keberhasilan aplikasi ini. Selain itu, pelatihan bagi masing-masing pimpinan daerah, yang mencakup Ketua, Sekretaris PCM, PRM, dan PDM, sangat krusial untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam penggunaan aplikasi ini.

SATUMU berfungsi sebagai satu Data Organisasi Muhammadiyah (DOM), mengintegrasikan informasi dari PPM, PWM, PDM, serta direktori organisasi. Dengan adanya aplikasi ini, Muhammadiyah dapat lebih efisien dalam pengelolaan data dan informasi, yang pada gilirannya akan mendukung perencanaan dan pelaksanaan program yang lebih baik. Inisiatif ini mencerminkan komitmen Muhammadiyah untuk memanfaatkan teknologi demi kemajuan dan kemandirian organisasi.

Penuturan Ali Sadazali, sebagai Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gubug Kabupaten Grobogan, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat positif dan bermanfaat. Menurutnya, acara tersebut berfungsi sebagai ajang silaturahim yang memperkuat hubungan antar daerah, serta sebagai platform untuk pendalaman ilmu dan konsolidasi organisasi. Dengan interaksi yang intens antar peserta, diharapkan dapat tercipta sinergi yang lebih baik dalam menjalankan program-program Muhammadiyah di tingkat lokal.

Ali menekankan bahwa hasil dari kegiatan ini seharusnya dapat ditransfer ke tingkat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di wilayah masing-masing. Hal ini penting agar implementasi nilai-nilai dan pembelajaran yang diperoleh selama acara menjadi role model bagi organisasi di tingkat yang lebih rendah. Dengan demikian, setiap cabang dapat menerapkan praktik terbaik yang telah dibahas, sehingga memperkuat basis organisasi Muhammadiyah secara keseluruhan.

Oleh: Suyadi LDK Grobogan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button