Khazanah Islam

I’tikaf Bagi Wanita

Dalil diisyari’atkannya i’tikaf bagi wanita:
Aisyah radhiyallahu ’anha mengatakan bahwa ketika Rasulullah menyampaikan akan ber-i’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, ia segera meminta izin kepada beliau untuk ber-i’tikaf dan Rasulullah shallaallahu ’alahi wa sallam mengizinkannya. (HR. Al-Bukhari: 2045 dan Muslim: 1172)

Berikut ini penjelasan tentang beberapa hukum yang berkaitan dengan i’tikaf bagi wanita:

1. Harus dengan izin suami.
2. I’tikaf hanya boleh dilakukan di dalam masjid.
3. Wanita yang ber-i’tikaf di masjid harus dalam ruang tertutup.

4. Sibuk dengan ketaatan selama i’tikaf, dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan berbagai macam ketaatan kepada Allah Ta’ala, seperti shalat, membaca Alquran, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istigfar (memohon ampun), membaca shalawat, berdoa, dan bentuk ketaatan lainnya.

5. Selama i’tikaf dimakruhkan menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang tidak bermanfaat, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

6. Boleh keluar jika mendesak. Akan tetapi, jika ia meninggalkan tempat i’tikaf tanpa keperluan yang jelas maka i’tikaf-nya batal.

7. Berhubungan badan membatalkan i’tikaf.
8. Boleh menyentuh suami.

9. Istihadah, boleh i’tikaf Wanita yang mengalami istihadah boleh ber-i’tikaf jika ia dapat menjaga kebersihan masjid.

10. Boleh temui suami di tempat i’tikaf.
11. Tetap boleh dilamar atau dinikahi.

Mohon maaf atas segala salah dan kilaf.. Semangat berkarya dan beribadah di bulan nan suci ini.. Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta menerima amal ibadah kita.. Aamiin..

Oleh: Dasirin

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button