News

Marak Clipper, Warganet Indonesia Diminta Bijak, Dewasa, dan Tidak Reaksioner

YOGYAKARTA – Di tengah situasi maraknya clipper, umat Islam diminta waspada, sebab informasi yang terpotong-potong berdampak pada pengetahuan yang dangkal, memacu sensasi, dan menimbulkan reaksioner. Clipper adalah content creator yang memotong dan menyunting konten video panjang (podcast, live stream, YouTube) menjadi cuplikan pendek untuk media sosial.

Pesan itu disampaikan Sekretaris Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin pada Selasa (3/3) di Masjid Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Tentu selain clipper, kemajuan teknologi informasi yang disertai Akal Imitasi (AI) memberikan tantangan yang tak sedikit. Sebut saja ada polarisasi dan konflik identitas, scam, hate speech, dan lain sebagainya.

“Berkat teknologi digital yang semua orang bisa mengakses, semua orang bisa menjadi narasumber, semua orang bisa meng-upload apapun yang ada di pikirannya, termasuk dalam hal paham keagamaan. Maka di ruang digital itu ikhtilaf, perselisihan atau perbedaan paham keagamaan itu terbuka lebar,” katanya.

Alih-alih ruang digital dijadikan sebagai tempat untuk berkompetisi kebaikan atau fastabiqul khairat, ruang digital justru dijadikan sebagai tempat adu ego dan sekadar klaim kebenaran kelompok masing-masing.

Oleh karena itu situasi ini menuntut adanya pendewasaan dalam menghadapi perbedaan. Menyikapi tidak dengan reaktif, tapi secara bijak dan beradab. Sebagai negara dengan tingkat religiusitas tinggi, warganet Indonesia harusnya bisa.

Pada kesempatan ini, Ahmad Muttaqin menyoroti masalah clippers yakni ceramah maupun pidato yang berdurasi panjang dipotong-potong sesuai keinginan kreator konten, namun acapkali menimbulkan kesalahpahaman dan misinformasi.

Melihat kejadian beberapa waktu terakhir, di mana video seorang pemuka agama asal Indonesia yang dipotong sembarang dan diunggah ulang, Muttaqin melihat itu dilakukan untuk membangun framing ideologi bagi kelompok berkepentingan.

“Di tengah situasi seperti ini kita perlu sikap spiritual yang tidak reaktif, tidak gampang menyebarkan informasi yang tidak jelas, dan tentu harus mengutamakan kebenaran di atas sensasi,” pesan Muttaqin.

Terlebih masyarakat digital ini cenderung bernalar dangkal atau yang akrab disebut sumbu pendek. Mereka mengkonsumsi informasi berdasarkan sensasi, tidak melalui pencermatan – ketika info dari kelompoknya tanpa dibaca langsung disukai, sementara dari yang berbeda langsung dislike.

Sumber: muhammadiyah.or.id

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button